Banjir bandang yang melanda Lombok Timur minggu lalu memang membawa duka. Puluhan rumah rusak, akses jalan terputus, dan kehidupan warga terhenti seketika. Namun, di tengah kepiluan itu, ada satu hal yang langsung menggelora: semangat gotong royong. Komunitas relawan, mahasiswa, dan warga setempat tak menunggu instruksi. Mereka langsung bahu-membahu membangun jembatan darurat dari bambu dan karung pasir, serta mendirikan dapur umum untuk memasak makanan hangat bagi para penyintas. Ini bukan sekadar aksi kemanusiaan—ini adalah bukti bahwa ketika bencana datang, kita tidak sendirian.
Mengapa kita perlu peduli? Karena di balik setiap jembatan darurat yang dibangun, ada anak-anak yang harus tetap bisa pergi ke sekolah. Di balik setiap piring nasi dari dapur umum, ada keluarga yang kehilangan rumah dan harta benda. Krisis iklim membuat bencana seperti ini makin sering terjadi. Lombok membutuhkan kita semua—bukan hanya sebagai penonton, tetapi sebagai bagian dari solusi. Setiap detik berlalu, ketahanan warga diuji. Dukungan kita, sekecil apa pun, bisa menjadi penyemangat dan pengubah hidup.
Apa yang bisa kita lakukan dari tempat kita sekarang? Peluang aksi masih terbuka lebar. Kita bisa bergabung sebagai relawan dari luar daerah untuk membantu distribusi logistik, evakuasi peralatan sekolah, atau menggalang dana untuk pembangunan kembali rumah. Jika tidak bisa datang langsung, kita bisa berdonasi tunai atau barang seperti selimut, obat-obatan, dan makanan siap saji. Atau menjadi sukarelawan untuk tim rekonstruksi yang akan berangkat akhir pekan ini. Semua kontribusi, betapa pun kecilnya, akan menjadi jembatan yang menghubungkan harapan dengan kenyataan.
Sekarang saatnya bergerak. Hubungi posko bencana di Lombok, kirimkan donasi terbaik kita, atau daftarkan diri sebagai sukarelawan. Jangan tanya siapa yang akan melakukannya, tapi tanyakan apa yang bisa kita lakukan bersama. Lombok mengulurkan tangan. Mari kita sambut dengan aksi nyata. Karena kolaborasi adalah kekuatan kita—dan dari gotong royong inilah pemulihan lahir.