Di bantaran Sungai Maros, Sulawesi Selatan, masih ada saudara-saudara kita yang harus menahan malu setiap pagi. Mereka terpaksa buang air di aliran sungai karena tidak memiliki jamban sendiri. Bukan karena malas, tapi karena keterbatasan ekonomi dan akses yang belum merata. Padahal, dari hal yang tampak sepele ini, martabat dan kesehatan warga ikut dipertaruhkan.
Kita semua sepakat bahwa air adalah sumber kehidupan, tetapi bagaimana bisa kehidupan tumbuh sehat ketika air yang sama menjadi tempat pembuangan? Risiko penyakit diare, cacingan, hingga stunting mengintai anak-anak yang bermain dan mandi di sekitar sana. Ini bukan hanya masalah mereka—ini masalah kita bersama. Ketika sebagian dari kita masih bisa menikmati kamar mandi yang layak, sebagian lainnya masih menahan napas setiap kali ingin buang air. Kebersihan adalah langkah awal menuju kemandirian, dan kemandirian itu harus kita bangun bersama.
Kabar baiknya, di tengah keterbatasan, tumbuh harapan. Program 'Jamban Sehat' hadir membangun toilet komunal sederhana dari bambu dan bioseptic. Konsepnya ringan, murah, namun berdampak besar. Tapi, program ini tidak bisa berjalan sendiri. Mereka butuh relawan tukang yang mau berbagi keahlian, dan donasi material untuk memperkuat konstruksi. Setiap satu jamban layak huni senilai Rp 500 ribu, dan setiap rupiah yang diberikan adalah bukti nyata bahwa kepedulian kita tidak pernah sia-sia.
Jangan bayangkan bahwa kehadiran kita terlalu kecil untuk memberi perubahan. Satu jamban yang selesai dibangun bisa digunakan puluhan kepala keluarga. Itu berarti mencegah belasan anak dari sakit perut, dan mengembalikan rasa percaya diri para ibu rumah tangga. Anda bisa ikut dengan dua cara: menjadi sponsor satu jamban, atau turun langsung dalam kerja bakti setiap hari Sabtu. Tidak perlu tunggu kaya untuk berbagi; cukup hadir dan tergerak. Karena perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang kita ambil secara bersama-sama.
Kebersihan bukan beban, melainkan investasi harga diri. Mari kita buktikan bahwa kolaborasi bisa mengalahkan keterbatasan. Hari ini, di bantaran sungai Maros, ada tangan-tangan yang menunggu uluran kita. Kapan lagi kita bisa menyumbang sekaligus menyaksikan senyum warga yang tidak lagi takut air sungai? Ayo bergabung jadi relawan, jadi sponsor, atau sekadar menyebarkan cerita ini ke lebih banyak orang. Satu jamban untuk satu keluarga, satu gerakan untuk satu desa yang lebih sehat dan berdaulat.