Di balik pesona alam Lombok yang memukau, ada kisah nyata yang mengusik hati nurani kita. Angka stunting di beberapa desa masih tinggi, dan para kader posyandu—pahlawan tanpa tanda jasa—kewalahan menjangkau setiap keluarga dengan balita. Mereka setiap hari bergerak membawa timbangan dan meteran, namun keterbatasan tenaga membuat beberapa anak terlewat dari pemantauan. Ini bukan sekadar angka statistik, melainkan soal masa depan generasi yang berisiko kehilangan potensi terbaiknya. Saatnya kita bertanya: apakah kita rela membiarkan anak-anak tumbuh dalam keterbatasan?
Mengapa kita harus peduli? Karena stunting tidak hanya soal tinggi badan, tapi juga merampas potensi otak dan kualitas hidup anak-anak bangsa. Di Lombok, program pemberian makanan tambahan (PMT) dan edukasi gizi telah berjalan, tetapi butuh lebih banyak tangan. Kader yang ada sering bekerja sendirian, dari pagi hingga sore, membantu pengukuran dan mengajar kelas memasak makanan bergizi. Tanpa dukungan kita, beban mereka semakin berat, dan dampaknya dirasakan oleh balita yang tidak mendapatkan perhatian optimal. Namun, jangan biarkan rasa bersalah menghentikan langkah—jadikan kepedulian ini sebagai panggilan untuk bertindak.
Kabar baiknya, kita semua bisa menjadi bagian dari solusi. Aksi nyata hari ini bisa mencegah generasi kerdil. Caranya mudah: daftarkan diri sebagai relawan kader posyandu. Pelatihan singkat tersedia di puskesmas setempat—tidak perlu latar belakang kesehatan, hanya perlu hati yang peduli. Bila waktu terbatas, bantu dengan menyumbang bahan pangan lokal seperti telur, ikan, atau sayuran untuk PMT. Atau jika memiliki rezeki lebih, jadilah donatur untuk memastikan program berjalan lancar. Setiap kontribusi, sekecil apa pun, adalah langkah besar menuju masa depan yang lebih cerah. Ingat, di balik setiap balita yang tumbuh sehat, ada kita yang memilih untuk peduli.
Mari bersama bergerak. Kunjungi puskesmas di desa terdekat, tanyakan bagaimana cara menjadi relawan, atau bagikan berita ini kepada teman yang peduli pada gizi anak. Jangan biarkan keterbatasan kader menjadi alasan untuk diam—jadikan momen ini sebagai awal kolaborasi yang mengubah hidup. Bersama, kita bisa membangun generasi yang kuat, cerdas, dan penuh potensi. Ayo bergandeng tangan, mulai dari langkah kecil hari ini!