Kolaborator

Berita terpercaya setiap hari.

BERITA TERKINI
Membangun Benteng Hijau dari Tangan Pemuda Desa: Kisah Kolektif Tolitan BanggaiLingkungan Ramah Anak: Inisiatif Komunitas Perkotaan Tingkatkan Hak dan Perlindungan AnakLingkungan Ramah Anak: Wujudkan Hak Anak lewat Inisiatif Komunitas PerkotaanAyo Replikasi! Bank Sampah Skala RT, Dari Sampah Jadi Berkah BersamaDari Sampah Menjadi Rupiah: Kisah Inspiratif Bank Sampah Bongas KulonInovasi Pemuda: Teknologi untuk Keadilan Sosial dan Kelestarian AlamBantuan Perbaikan Rumah Warga Tidak Mampu: Atap Bocor Bukan Halangan untuk Hidup LayakRuang Kreasi Anak Jalanan: Mengalihkan dari Jalanan ke Dunia Kreativitas Membangun Benteng Hijau dari Tangan Pemuda Desa: Kisah Kolektif Tolitan BanggaiLingkungan Ramah Anak: Inisiatif Komunitas Perkotaan Tingkatkan Hak dan Perlindungan AnakLingkungan Ramah Anak: Wujudkan Hak Anak lewat Inisiatif Komunitas PerkotaanAyo Replikasi! Bank Sampah Skala RT, Dari Sampah Jadi Berkah BersamaDari Sampah Menjadi Rupiah: Kisah Inspiratif Bank Sampah Bongas KulonInovasi Pemuda: Teknologi untuk Keadilan Sosial dan Kelestarian AlamBantuan Perbaikan Rumah Warga Tidak Mampu: Atap Bocor Bukan Halangan untuk Hidup LayakRuang Kreasi Anak Jalanan: Mengalihkan dari Jalanan ke Dunia Kreativitas
  1. Home
  2. Membangun Benteng Hijau dari Tangan Pemu...

Membangun Benteng Hijau dari Tangan Pemuda Desa: Kisah Kolektif Tolitan Banggai

Membangun Benteng Hijau dari Tangan Pemuda Desa: Kisah Kolektif Tolitan Banggai
Pemuda Desa Babang Buyangge di Banggai membentuk Kolektif Tolitan untuk menanggulangi banjir dan erosi dengan menanam 500 bibit pohon serta mengembangkan pembibitan mandiri. Kisah mereka menginspirasi kita bahwa kolaborasi lintas komunitas, pemuda, mahasiswa KKN, dan dunia usaha dapat mengubah ancaman lingkungan menjadi harapan melalui aksi nyata dan berkelanjutan.

Di bantaran sungai Desa Babang Buyangge, kegelisahan adalah tetangga yang terlalu akrab. Setiap musim hujan tiba, ancaman banjir dan tanah longsor mengintai, diperparah oleh kebiasaan membuang sampah sembarangan dan kegiatan penebangan yang menggerus perlindungan alami. Lingkungan yang sakit akhirnya berbalik menyulitkan kehidupan warganya sendiri. Namun, di tengah tantangan itu, sekelompok pemuda memilih untuk tidak tinggal diam. Mereka membentuk Kolektif Tolitan dan memutuskan untuk membangun pertahanan mereka sendiri—bukan dari beton, melainkan dari akar dan pepohonan.

Mengapa gerakan seperti ini begitu penting? Karena perubahan lingkungan bukanlah masalah satu atau dua orang; ini tentang masa bersama kita. Setiap pohon yang ditanam adalah investasi untuk ketahanan ekosistem, penjaga mata air, dan penahan tanah dari amukan erosi. Lebih dari itu, gerakan ini membuktikan bahwa pemuda desa bukanlah penonton, melainkan motor penggerak yang mampu merancang solusi berkelanjutan. Ketika lingkungan pulih, kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat pun ikut bangkit.

Lantas, apa yang bisa kita lakukan? Kisah Kolektif Tolitan menunjukkan bahwa langkah awal tak perlu rumit. Kita bisa mulai dengan membentuk kelompok peduli lingkungan di komunitas masing-masing, menggalang penanaman pohon bersama, atau belajar teknik pembibitan mandiri seperti yang mereka lakukan dengan kakao dan kayu bernilai ekonomi. Bagi mahasiswa KKN atau relawan, momentum untuk terlibat langsung terbuka lebar—bawa ilmu dan semangatmu ke desa, dampingi komunitas, dan jadilah jembatan yang menghubungkan mereka dengan program CSR perusahaan atau lembaga donor untuk dukungan teknis dan sumber daya.

Inilah saatnya kita bergerak bersama. Ancaman banjir dan kerusakan lingkungan bisa diubah menjadi harapan, asal ada kemauan untuk berkolaborasi. Mari kita tiru semangat Tolitan: mulai dari hal konkret, libatkan sebanyak mungkin tangan, dan jadikan setiap desa sebagai benteng hijau yang tangguh. Ayo, suarakan ide, kumpulkan kawan, dan wujudkan aksi nyata. Bersama, kita tidak hanya menanam pohon—kita menanam masa depan.

ARTIKEL TERKAIT