Setiap tahun, bencana alam datang tanpa aba-aba. Gempa, banjir, longsor—semua bisa meluluhlantakkan dalam sekejap. Namun, yang paling menyayat hati bukanlah kerusakan bangunan, melainkan korban jiwa yang jatuh. Sebagian besar dari mereka bukan karena kekuatan bencana, melainkan karena minimnya pengetahuan tentang cara menyelamatkan diri dan orang lain. Di sinilah kita sadar: kesiapsiagaan bukan hanya tugas petugas, tapi tanggung jawab kita bersama.
Mungkin Anda berpikir, "Saya bukan seorang dokter, polisi, atau pemadam kebakaran. Apa yang bisa saya lakukan?" Jawabannya: banyak, bahkan dengan hal yang sederhana. Mulai dari tahu arah evakuasi saat gempa, cara membuat tandu darurat, hingga menghentikan pendarahan kecil. Inilah yang diajarkan dalam Sekolah Relawan Tanggap Bencana (SRTB)—sebuah program pelatihan dasar kebencanaan untuk warga biasa. Ilmunya tidak rumit, tapi potensinya menyelamatkan jiwa. Bayangkan jika setiap lingkungan memiliki minimal satu orang yang terlatih: betapa cepat respons saat darurat tiba.
Tidak perlu menunggu menjadi ahli. Langkah pertama bisa dimulai hari ini. Publik dapat mengikuti pelatihan SRTB di kota terdekat, lalu menjadi agen siaga di lingkungan sendiri. Atau, bagi yang sudah memiliki sertifikat, peluang menjadi instruktur terbuka lebar untuk menularkan ilmu kepada lebih banyak orang. Bayangkan dampak berantai yang tercipta: satu orang terlatih bisa melatih sepuluh, sepuluh bisa menjangkau seratus. Inilah aksi nyata yang menumbuhkan semangat tolong-menolong tanpa batas.
Setiap keterampilan yang kita pelajari adalah tameng bagi sesama. Mari jadikan ketangguhan bukan hanya milik segelintir, melainkan milik kita semua. Saatnya berubah dari penonton menjadi penolong pertama. Ayo, cari Sekolah Relawan Tanggap Bencana terdekat di daerahmu dan ambil langkah kecil yang berarti besar. Karena, satu orang yang siap bisa menyelamatkan puluhan jiwa.